Senin, 26 Oktober 2009

Renungan ditengah malam

Memori perjalanan hidup yang sudah dijalani, merupakan kisah sepanjang masa yang sudah terlewatkan bagi setiap insan manusia. Kita masing-masing juga demikian, perlu senantiasa memelihara kesegaran ingatan tentang semua peristiwa yang langsung maupun tidak langsung bersentuhan dan mempengaruhi kehidupan, sebagai kenangan yang sudah tertoreh dalam bagian kisah. Pasti tidak semua yang pernah terjadi dapat kita ingat terutama peristiwa kelahiran, masa balita dan masa kanak-kanak yang penuh ceria dan tangis (karena permintaan tidak dipenuhi ibu). Menginjak masa remaja aku begitu asyik dan terhanyut dalam merancang serta merajut cita-cita, kelak sesudah besar aku akan menjadi ......., ........, ........., dan seterusnya. Aku sendiri sudah berusaha mengingat dan menelusuri kembali memori kenangan atau pada saat remaja dulu, sebenarnya aku mau jadi .........?, aku mencoba untuk jujur pada diri sendiri bahwa dimana, sebagai apa dan pengabdian apa yang sudah aku berikan untuk nusa, bangsa, keluarga dan agamaku tidak ada dalam rencanaku. Dengan begitu, aku juga tidak memiliki keberanian memberikan penilaian apakah keberadaanku sekarang ini sebesar atau tidak sebesar atau lebih besar dari cita-cita dan harapan yang dulu pernah kurangkaikan dalam hati. Kini bawah sadarku menegur pikiranku, seakan dia berkata "Hay 'ndar kenapa mesti berfikir keras untuk hal-hal yang sudah berlalu, bukankah artinya kau membandingkan perbuatanmu dengan anugrah TuhanMu yang empunya segalanya sudah memberimu sesuai kehendakNya?". Peringatan itu menyadarkan aku bahwa manusia harus tetap merangkai rencana dan cita-cita dalam hidupnya kedepan dan menerima semua yang terjadi setiap hari dalam hidup untuk dirangkai menjadi satu kesatuan kisah hidup guna dikenangkan disetiap kesempatanmu, untuk menyenangkanmu dan mengingatkankanmu bersyukur kepada Tuhanmu dalam segala hal. Teruslah mengalir sampai jauh.............................

Minggu, 04 Oktober 2009

Bencana alam sebagai pelajaran hidup

Sumbar berduka, juga duka indonesia karena kita semua turut merasakan duka dan penderitaan saudara sebangsa di tanah Minang yang menerima cobaan berat ditimpa musibah Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR pada Kamis sore yang lalu(1 oktober 2009). Kejadian bencana alam yang sering dialami oleh umat manusia diberbagai belahan dunia dan menimbulkan korban jiwa dan harta benda dalam waktu singkat dan tidak terduga. Manusia selalu punya alasan tentang sebab musabab, kenapa bencana itu terjadi dan kenapa korban sedemikian banyak ?, diantaranya karena manusia melakukan perusakan terhadap alam lingkungan, karena manusia tidak menyiapkan diri menghadapi peristiwa bencana dan ada lagi menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena perilaku manusia yang penuh dosa, seperti senandung Ebiet. G. Ade "mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita.... dst". Bagi saya pelajaran yang sederhana adalah hidup memang harus bekerja dan berkarya untuk memperoleh damai sejahtera di dunia dan beramal untuk bekal di kehidupan setelahnya, dengan bahasa yang lebih tepat adalah "jangan lupa mencari dan mengumpulkan harta yang sebenarnya akan dibawa pada saatnya dipanggil kekehidupan baru hanya karena mencari dan mengumpulkan harta yang sebenarnya akan ditinggalkan kelak pada saat dipanggil". Hidup adalah milik Tuhan seperti air yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah hingga kelaut, mengalir terus........ sampai jauh.